Bel tanda pulang baru saja berbunyi dari arah
speaker kelasku. Ini bagaikan syurga dari nerakanya hari ini. Ya, hari ini
adalah hari yang sangat melelahkan, dimana semua mata pelajaran dihinggapi MID yang menguras energi dan memusingkan
kepala. Ya, aku harus mengakuinya ini SMA berbeda sekali dengan SD yang bisa
saja menganggap remeh ulangan, MID
atau ujian semester sekalipun dan tak akan diomel ibu jika nilai ulangan
rendah. Tapi nyatanya inilah aku sekarang siswa kelas tiga SMA yang sedang
dipusingkan oleh ujian-ujian yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Segera kulambaikan tangan kananku ke arah angkot
kuning yang melintas. Satu-dua angkot mengabaikanku, entah karena penumpang
sudah penuh atau memang tak menghiraukanku yang sejak tadi berdiri di sisi
persimpangan ini, entahlah aku tak mengerti. Sabar timpalku dalam hati.
Kulambaikan tanganku untuk yang ketiga kalinya dan akhirnya satu angkotpun
menepi.
***
Aku pulang dengan model jilbab tak karuan. Ada saja
rambut yang menyembul disana-sini. Baju putih yang kehijau-hijauan dan ditambah
lagi rok merah yang sudah kotor. Kedua tanganku menjinjing sepatu yang begitu
kumal. Dengan setengah kaget ibuku mengomel panjang hingga menyeretku ke kamar
mandi. Dan anehnya aku menurut tanpa memberontak.
Bapak Zuhri. Dia adalah sosok guru yang baik, ramah,
humoris, asik dan kreatif. Ada-ada saja materi yang dikemas dengan
experimen-experimennya yang menarik. Mulai dari membuat roket air, penyuling
air, membuktikan sifat air dan lain sebagainya.
Siang itu kami tengah mempersiapkan experimen
mengenai sifat air itu mengalir kebawah. Kami dibagi menjadi lima kelompok,
masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Aku dan kedua temanku berada di
lantai dua sambil memegang benang wol. Di ujung benangnya ditarik oleh kedua
temanku yang lain dari bawah, hingga benang tersebut membetuk diagonal. Dalam
kurun waktu dua puluh detik, air gincu hijau ini harus dialirkan ke bawah
menggunakan benang wol hingga memenuhi wadah yang berada di lantai bawah. Pada hitungan
ketiga, perlahan-lahan aku alirkan air itu. Meski banyak yang tumpah ternyata
banyak juga air yang kami tampung dan ternyata kami juaranya pada percobaan
kali ini. Usai percobaan kami telah membuat rencara untuk menyiram Pak Zuhri
dengan air gincu hijau itu karena ia berulang tahun pada hari ini. Itulah yang
membuat baju, jilbab dan sepatuku terlihat begitu jorok.
Lain lagi dengan tingkahnya yang jahil. Bapak Zuhri
dengan seenaknya saja mengubah nama muridnya sesuai apa yang dia mau. Contohnya
aku. Aku sebenarnya dipanggil Reta, tapi karena nama panjangku Reta fadil
hasanah maka ia memanggilku berbeda dari yang lain, ia mengambil nama tengahku
dan memanggilku “Fadil” semua teman-teman dan termasuk gurupun mengikutinya.
Nama itu sangat tidak cocok dijadikan panggilanku karena nama fadil itu identik
dengan nama cowok. Aku sempat merasa kesal dengan Bapak Zuhri yang seenaknya
saja mengubah namaku, tapi lama-kelamaan aku terbiasa dan menyukainya.
Dan cara mengajarnya yang tegas dibalut dengan
humorisnya. Membuat kami menikmati pelajaran sains ini. Dan ia juga tidak
sungkan-sungkan memberi kami bintang jika nilai kami sempurna. Sehingga membuat
kami termotivasi untuk mendapatkan nilai yang baik.
***
Aku merasa tubuhku seperti digoncang-goncang dan
seketika itu juga aku mendengar suara.
“Dek..dek.., kok melamun? Nanti rumahnya kelewatan
lho!”. Ujar seorang wanita paruh baya kepadaku sambil sedikit mengoncangku.
“Eh iya buk, maaf ”. Ucapku asal sembari mengucek
mata yang tak ngantuk. Ternyata lamunanku barusan membuatku bernostalgia
tentang masa SD ku terhadap Pak Zuhri. Kulihat gapura gang rumahku sudah
kelihatan. “Minggir..!!” Ucapku lantang, sengaja agar si sopir tak melewati gang
rumahku. Segera aku turun lalu meronggoh kantong bajuku mengambil uang seribu lima
ratus dan memberikannya kepada si sopir.
Aku berjalan terseok-seok, aku merasa tubuhku
ringan. Hingga membuat badanku membungkuk kedepan dikarenakan muatan tas yang
tak seimbang dengan berat badanku. Aku berjalan perlahan hingga menuju rumah.
Fikiranku melanglang-buana. Masih jelas terbayang yang aku lamunkan di angkot
tadi. Aku masih tak percaya dibuatnya. Bibirku kelu tak dapat berucap barang
satu dua patah katapun, serasa sesak memenuhi rongga dadaku. Sekujur tubuhku
merinding. Jujur aku benar-benar tak kuasa.
Dua hari yang lalu, Vina adik kelasku sewaktu SD
sempat membroadcast ke bbm ku, bahwa Pak Zuhri telah meninggal dunia,
dikarenakan kanker yang bersarang di kepalanya. Ia memang sudah sakit-sakitan
sejak tiga tahun belakangan ini. Tapi aku tak menyangka bahwa dia akan pergi
secepat ini. Terakhir aku menemuinya dia masih sehat walafiat sekitar lima atau
empat tahun yang lalu di sebuah ajang perkemahan. Ada rasa menyesal mengapa
saat aku bertemu dengannya takku sapa dan menyalaminya. Dan sekarang dia telah
pergi, dan dia telah berhasil menjadi guru yang baik. Selamat tinggal Pak
Zuhri, semoga ilmu yang kau berikan dapat bermanfaat bagi siswa-siswimu, dan
Allah akan melipat gandakan pahalamu.
Kututup cepat lamunanku, dan segera melanjutkan
perjalanan menuju rumah. Terima kasih untuk semuanya Pak Zuhri batinku dalam
hati.
By: Gustin Juna Saputri
By: Gustin Juna Saputri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar